Showing posts with label konseling. Show all posts
Showing posts with label konseling. Show all posts

Friday, April 16, 2010

Kendala Konseling Lintas Budaya

1. Bahasa

Bahasa merupakan sistem lambang bunyi berartikulasi yg bersifat sewenang-wenang dan konvensional yg dipakai sbg alat komunikasi untuk mela-hirkan perasaan dan pikiran.(Kamus Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan Nasional ).

Bahasa menjadi faktor penghambat dalam Konseling Lintas Budaya bilamana:

a. Tingkat penguasaan bahasa sangat kurang

Ada beberapa orang yang memiliki kesulitan dalam menyusun kosa kata dan tata bahasa umum yang dipakai banyak orang, sehingga terkadang orang lain kurang mengerti akan apa yang diucapkannya dan menimbulkan persepsi yang berbeda. Contoh: konseli yang menyusun kata-kata kurang tepat, misalnya “makan dia sudah”, maka akan menimbulkan kebingungan bagi konselor untuk mengartikan ucapan konseli tersebut.

b. Miskin dalam kosa kata

Seseorang yang memiliki kekurangan dalam perbendaharaan kata.

Contoh: Seorang konseli yang tidak bisa merangkai kosa kata dalam mengungkapkan apa yang akan dia katakana akan membuat konselor atau pun orang lain bingung dalam menerima atau pun mengartikan kata-katanya tersebut.

c. Miskin dalam ungkapan- ungkapan

Contoh: Lia tidak nyambung ketika teman- temannya berbicara tentang istilah “ Ayam Kampus”. Kemudian Lia menanyakan pada temannya tentang istilah tersebut , temannya kemudian tertawa terbahak- bahak dan menganggap Lia sebagai orang bego.

d. Penggunaan dialek yang berbeda- beda.

Contoh: orang malang yang menggunakan kata dibalik- balik misalnya: berapa(orip) dan mengginakan dialeg tegas(terkesan kasar).Orang Yogyakarta menggunakan karma alus dalam kebanyakan pembicaraannya.

e. Merasa menjadi etnis yang mayoritas sehingga menganggap orang lain selalu mengerti apa yang ia maksudkan.

Contoh: konselor yang berbicara dengan bahasa jawa padahal konselinya berasal dari Madura, Konselor menganggap Konseli mengerti semua apa yang oleh konselor. Namun pada kenyataannya konseli tidak semua mengerti apa yang diucapkan konselor.

f. Perbedaan kelas sosial

Pada kelas Sosial yang tinggi cenderungan orang berbicara dengan bahasa yang kelasnya tinggi(eksklusif) dan sulit dimengerti oleh orang dengan status social rendah. Contoh: mahasiswa yang KKN menjelaskan pada warga desa terpencil dengan menerangkan tentang penyebaran penyakit dengan menggunakan istilah- istilah tinggi misalnya: inkubasi, injeksi. Tanpa menjelaskan arti yang lebih mudah. Tentunya warga desa tersebut tidak mengerti apa ia katakana. Seharusnya kata tersebut dijelaskan inkubasi= penularan penyakit dalam tubuh dan injeksi= menyuntik.

g. Usia

Contoh: Guru yang menganggap murid kurang ajar karena membahas masalah onani/ masturbasi. Pada golongan muda membahas soal sex bukan soal yang tabu lagi namun bagi sebagian guru yang usianya berbeda jauh dengan siswa menganggap hal itu adalah kurang ajar.

h. Latar pendidikan keluarga

Contoh: Konseli yang memilki orang tua berlatar pendidikan tinggi akan dianggap berasal dari keluarga kelas atas.

i. Penggunaan bahasa gaul.

Contoh: Konseli yang menggunakan bahasa gaul missal ; pembokat,Lekong dll. Jika Konselor tidak faham tentang hal itu maka akan menjadi tidak bersambungan dalam komunikasi.

2. Nilai

Nilai ( Value) merupakan kecenderungan/ disposisi mengenai preferensi (kelebih-sukaan) yang didasarkan pada konsepsi tertentu, yaitu hal yang dikehendaki/ diinginkan dan disukai orang banyak yang berkenaan dengan baik/buruk, patut/ tidak patut, pantas/ tidak pantas.

Nilai menjadi faktor penghambat dalam Konseling Lintas Budaya bilamana:

a. Memaksakan Nilai diri terhadap orang lain

Contoh: Konselor yang memaksakan konseli untuk melaksanakan nilai sub- budaya konselor. Konselor merupakan orang yang rapi dan wangi, konselor tidak melayani konseli yang tidak rapi dan tidak wangi sebelum mereka rapi dan wangi.

b. Memaksakan Nilai golongan mayoritas terhadap nilai golongan minoritas.

Contoh: Konselor yang menganggap konseli tidak sopan karena tidak membungkuk ketika lewat di depan orang yang lebih tua. Konselor tersebut tidak mau membantu konseli sebelum ia mau mengubah kebiasaan mereka untuk membungkukkan badan ketika lewat didepan orang yang lebih tua. Tohang berasal dari Timor Leste yang mempunyai kebiasaan menepuk bahu orang yang dijumpainya sekalipun ia lebih tua darinya.

3. Stereotip

Stereotip merupakan opini/ pendapat yang terlalu disederhanakan, dan tidak disertai penilaian/kritikan( Brown et al, 1988). Stereotip juga merupakan generalisasi mengenai orang- orang dari kelompok lain, dimana seseorang memberi definisi dulu baru mengamati.

Stereotip menjadi kendala konseling( termasuk hambatan sikap)karena terbentuk secara lama dan berakar sehingga sulit untuk diubah, dan menjadi pola tingkah laku yang berulang- ulang.Hal itu merupakan hasil belajar sehingga semakin lama semakin susah di ubah.

Contoh: konselor yang menganggap konseli laki- laki yang memakai anting pasti pembuat onar dan brandal. Sehingga ketika konseling konselor mengalami kesulitan untuk mengubah pandangannya tentang konseli laki- laki tersebut yang memakai anting.

4. Kelas Sosial

Kelas sosial muncul karena latar pendidikan, pekerjaan, kekayaan, penghasilan, dan perilaku orang tersebut membelanjakan uang. Ada 3 kelas sosial yang masih dapat dibagi lagi menjadi 9 yaitu atas- atas, atas- menengah, atas bawah).

Situasi yang menjadi kedala: tingkat perbedaan pengalaman antara konselor dengan klien , persepsi dan wawasan mereka terhadap dunia.Konselor dari kelas sosial menegah mungkin kurang paham terhadap kebiasaan konseli dari kelas sosial tinggi/ rendah.

Contoh: Bu Ana dari kelas sosial sedang yang mempunyai konseli dari kelas sosial tinggi benama Grace yang kesekolah mengendarai mobil sendiri, hobi shoping dan ke salon ketika Grace bercerita terhadap Bu Ana , Bu Ana kurang memahami Grace sepenuhnya karena perbedaan kelas sosial diatas.

5. Ras atau suku

Ras adalah penggolongan bangsa berdasarkan ciri-ciri fisik; rumpun bangsa, Sedangkan suku merupakan masyarakat yang tergabung dalam satu kelompok.

Perbedaan suku yang menjadi kendala dalam konseling karena masing- masing suku memiliki kebiasaan, falsafah hidup, dan nilai budaya yang berbeda- beda. Selain itu golongan minoritas terkadang disamaratakan oleh golongan mayoritas.

Contohnya: konseli yang berasal dari suku bali dan konselor yang berasal dari suku jawa melaksanakan konseling

6. Jenis kelamin(gender)

Perbedaan Jenis kelamin menjadi perbincangan sejak jaman dahulu perbedaan jenis kelamin mempengaruhi konseling karena terkadang konselor laki-laki mempunyai stereotip terhadap perempuan yang bersifat kurang mandiri, kurang tegas, dan kurang berani mengambil resiko. Konselor perempuan kadang menganggap laki-laki tidak boleh cengeng dan tegas. Namun, jika dalam proses konseling baik laki-laki atau perempuan menampakkan sikap yang tidak sepatutnya menurut gender mereka maka terkadang konselor menganggap aneh dan salah. Contoh : konseli laki-laki ia kurang tegas, berbicara seperti perempuan dan sering menangis maka konselor di suatu tempat menyuruh konseli untuk tegas dalam berbicara selayaknya laki-laki.

7. Usia

Setiap periode usia individu memiliki tugas perkembangan dan kebutuhan-kebutuhan untuk melaksanakan tugas perkembangan dan memenuhi berbagai kebutuhuan tersebut. Setiap periode usia mempunyai nilai-nilai budaya usia masing-masing. Hal itu terkadang menjadi masalah dalam pelaksanaan konseling karena adanya perbedaan kebutuhan, kebiasaan, gaya hidup dan nilai budaya tertentu dalam setiap rentangan usia. Contoh : anak laki-laki jika dijemput orang tua, terutama ibu, terkadang ia malu dan memilih pulang sendiri atau pulang bersama teman-temannya. Akan tetapi menurut orang tua hal itu merupakan suatu bentuk perhatian orang tua terhadap anaknya.

8. Preferensi Seksual/ Orientasi.

Usaha-usaha yang dilakukan orang untuk mengatasi masalah seksualitasnya merupakan isu yang lazim menjadi bahan kajian dalam konseling. Itu perihal mengakui perasaan seksual, menyerap perasaan-perasaan itu ke dalam dan membentuk citra diri seseorang, dan membuat keputusan tentang bagaimana bertindak atas dasar perasaan dan jati dirinya.

Pengaruhnya terhadap layanan bantuan konseling jika suatu saat terdapat konseli yang menagalami kasus berkenaan dengan preferensi seksual hal ini akan menghambat konseling karena kemungkinan konselor tidak paham akan nilai-nilai konseli tersebut. Contoh : konseli yang mengalami kelainan seksual (homoseksual) ia menveritakan kepada konselor bahwa ia mulai menyukai teman sesama jenis. Konselor tidak paham akan nilai-nilai konseli tersebut.

9. Gaya Hidup

Gaya hidup atau pola hidup dapat dibagi menjadi gaya hidup tradisioanal dan gaya hidup alternatif. Pengaruhnya terhadap layanan bantuan konseling terkadang gaya hidup seseorang sulit dimengerti dan diterima olehkonselor. Contoh : seorang konseli yang memiliki gaya hidup bebas, ia melakukan free sex, hidup serumah dengan teman lawan jenis yang bukan suaminya, dan ia nyaman dengan keadaan itu. Di sini konselor terkadang sulit mengerti ataupun menerima gaya hidup konseli tersebut.

10. Keadaan orang-orang cacat

Keadaan orang cacat merupakan penghambat dalam pelaksanaan konseling karena cacat akan mempengaruhi perilaku, sikap, kepekaan perasaan, dan reaksi terhadap lingkungan. Konselor tidak luput dari prasangkan atau bias yang kadang-kadang secara tidak sadar juga mengungkapkan problemnya dalam mengidentifikasi konseli yang mengalami cacat. Contoh : seorang konseli yang memiliki cacat fisik dianggap konselor sebagai individu yang rapu, tidak ada harapan, penuh penderitaan, frustasi dan ditolak.

APLIKASI TERAPI REALITAS DALAM KELOMPOK

Prosedur Terapi Realitas dalam Kelompok: Sistem WDEP

Wubbolding (2000, 2001, 2002) menggunakan singkatan WDEP untuk menggambarkan prosedur utama yang dapat diaplikasikan dalam praktek terapi realitas kelompok. Setiap surat mengacu pada sekelompok strategi: W .= ingin; D = arah dan melakukan; E = evaluasi diri dan P = perencanaan.Strategi ini dirancang untuk mempromosikan perubahan.

Keinginan (W) terapis bertanya, "Apa yang kau inginkan?" Melalui terampil terapis bertanya, klien didorong untuk mengenali, mendefinisikan, dan menggarisbawahi bagaimana mereka ingin memenuhi kebutuhan mereka. Penggunaan pertanyaan adalah landasan dalam praktek terapi realitas. Tepat pada waktunya dan pertanyaan strategis bisa mendapatkan anggota untuk berpikir tentang apa yang mereka inginkan dan untuk mengevaluasi apakah perilaku mereka memimpin mereka ke arah mereka ingin pergi. Karena terapi realitas memanfaatkan pertanyaan untuk tingkat yang lebih besar daripada banyak pendekatan konseling lainnya, penting bagi pemimpin kelompok untuk mengembangkan keterampilan memperluas pertanyaan. Seni konseling kelompok memerlukan pemimpin yang tahu pertanyaan apa yang harus bertanya, bagaimana bertanya kepada mereka, dan kapan harus bertanya kepada mereka.

Namun Wubbolding (1996b) menulis bahwa penggunaan pertanyaan yang berlebihan dan menyebabkan iritasi klien, perlawanan, dan pembelaan. Jika pertanyaan menjadi teknik utama menggunakan seorang pemimpin, itu cenderung membuat jarak dan menjaga pemimpin anonim. Wubbolding menegaskan bahwa hubungan ditingkatkan ketika mempertanyakan dikombinasikan dengan pemikiran reflektif, memeriksa persepsi, dan teknik lain.

Bagian dari konseling berisi dari eksplorasi " album foto "klien dan cara-cara di mana perilaku mereka ditujukan untuk menggerakkan dunia luar lebih dekat dengan dunia batin mereka inginkan. Klien diberi kesempatan untuk mengeksplorasi setiap aspek kehidupan, termasuk apa yang mereka inginkan dari keluarga, teman, dan bekerja. Selain itu, Apakah bermanfaat bagi klien untuk mendefinisikan apa yang mereka harapkan dan tunggu dari konselor dan dari diri mereka sendiri (Wubbolding, 1996a; Wubbolding & Brickell, 1999).

Melakukan dan Arah (D) Setelah klien mengeksplorasi kualitas dunia mereka (keinginan) dan kebutuhan, mereka diminta untuk melihat perilaku mereka saat ini untuk menentukan apakah apa yang mereka lakukan adalah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Wubbolding (1991) menulis bahwa terapis memegang cermin sebelum anggota kelompok dan bertanya: "Apakah pilihan ini membawa Anda ke mana Anda ingin pergi? Apakah tujuan Anda benar-benar berguna bagi Anda? ".

Pemimpin tidak mengizinkan klien untuk berbicara tentang peristiwa-peristiwa di masa lalu kecuali peristiwa-peristiwa ini dapat dengan mudah berhubungan dengan situasi sekarang. Masa lalu mungkin dibicarakan jika hal itu akan membantu klien merencanakan esok yang lebih baik. Ketika masalah diselesaikan, itu adalah hasil dari klien belajar bagaimana memodifikasi pikiran mereka dan memilih cara bertindak lebih baik daripada ketika mereka mulai terapi.

Tujuan dari penekanan pada perilaku saat ini adalah untuk membantu klien memahami

tanggung jawab mereka perasaan mereka sendiri. Sebagai cara untuk mendorong klien untuk melihat apa yang sebenarnya mereka lakukan untuk mengikutkan perasaan mereka, pertanyaan ini mungkin ditanyakan:

· Apa yang Anda lakukan sekarang?

· Apa yang Anda benar-benar melakukan minggu terakhir ini?

· Apa yang Anda ingin lakukan secara berbeda seminggu terakhir ini?

· Apa yang menghentikan Anda dari melakukan apa yang Anda katakan Anda ingin lakukan?

· Apa yang akan Anda lakukan besok?

Evaluasi Diri (E) Ini adalah tugas terapis untuk menghadapi klien dengan

Konsequen atas perilaku mereka dan membuat mereka untuk menilai kualitas

tindakan. Memang, klien akhirnya mengevaluasi perilaku mereka sendiri, walaupun mereka tidak akan berubah. Evaluasi diri adalah inti dari reality.Setelah klien membuat evaluasi tentang Kualitas perilaku mereka, mereka dapat menentukan apa yang dapat berkontribusi terhadap kegagalan mereka dan perubahan apa yang mereka dapat. Sangat penting bahwa terapis tetap tidak menghakimi tentang perilaku klien dan tidak mempunyai tanggung jawab untuk klien dalam membuat nilai penilaian.

Perencanaan (P) Sebagian besar bekerja di terapi realitas terdiri dari anggota membantu mengidentifikasi cara-cara tertentu untuk mengubah-kegagalan mereka tersedak menjadi pilihan kesuksesan. Terlepas dari siapa yang memprakarsai rencana, seni perencanaan praktis adalah untuk membentuk tujuan-tujuan jangka pendek yang memiliki probabilitas tinggi berhasil dicapai, karena keberhasilan tersebut akan positif klien memperkuat upaya-upaya untuk mencapai tujuan jangka panjang.

Tujuan dari rencana ini adalah untuk mengatur pengalaman sukses. Setelah suatu rencana karya, perasaan harga diri akan meningkat. Jelas bahwa rencana membantu sederhana dalam menentukan awal dan mengasah yang harus dilakukan, kapan akan dilakukan, dan seberapa sering. Singkatnya, rencana yang dimaksudkan untuk mendorong klien untuk menerjemahkan pembicaraan mereka dan niat ke dalam tindakan. Walaupun beban tanggung jawab untuk merumuskan dan melaksanakan rencana untuk berubah terletak dengan anggota kelompok, itu adalah tugas pemimpin untuk menciptakan suasana menerima dan memperkaya perencanaan. Perlu ditekankan bahwa selama tahap perencanaan ini, pemimpin kelompok terus mendorong anggotanya untuk memikul tanggung jawab atas pilihan mereka sendiri dan tindakan.

Menerapkan Terapi Realitas Kelompok untuk Bekerja di Sekolah

Terapi realitas sangat relevan untuk kerja kelompok dengan anak-anak dan remaja dalam pengaturan sekolah. Glasser umumnya secara terbuka telah diterima oleh pendidik yang menginginkan dia untuk menerapkan ide-ide dasar realitas terapi ke kelas (Wubbolding & Brickell,, 1999). Glasser (1986) menunjukkan bagaimana guru bisa menjadi manajer yang tugas utamanya adalah untuk memotivasi siswa dengan memberdayakan mereka dengan tanggung jawab untuk pembelajaran mereka.

Wubbolding (1997) menulis tentang cara-cara untuk meningkatkan lingkungan sekolah dengan memberdayakan para siswa dengan (1) menciptakan kurikulum yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar bertahan hidup, milik, kekuasaan, kebebasan, dan menyenangkan; (2) hak-hak emphasizi ng siswa untuk membuat pilihan bagi diri mereka sendiri dan untuk menerima konsekuensi yang merupakan hasil dari pilihan; (3) mengajar siswa seni evaluasi diri; (4) mengadakan pertemuan kelas yang mendorong siswa untuk memberikan masukan dalam perumusan peraturan-peraturan kelas, dan (5 ) menciptakan dan secara konsisten menegakkan sekolah berbagai aturan dan kebijakan yang jelas, sederhana, wajar, dan dikenal oleh semua siswa.

Seberapa efektif terapi realitas di sekolah-sekolah? Thompson dan Rudolph (2000) mempertimbangkan validasi terbaik realitas terapi untuk menjadi sukses Glasser di awal kariernya dalam melakukan baik individu dan kelompok konseling di Ventura School for Girls.Sebelum ia menjadi terkait dengan lembaga ini, sekolah tingkat kepulangan sakit mendekati 90%. Tak lama setelah bekerja dengan anak-anak, tingkat ini turun menjadi 20%. Hal ini penting untuk kelompok konselor yang bekerja di pengaturan sekolah untuk menciptakan iklim saling percaya dalam kelompok-kelompok mereka. Karakteristik pribadi pemimpin kelompok benar-benar penting dalam menciptakan iklim yang terbuka.

Sebagaimana yang terjadi pada pendekatan perilaku kognitif, terapi realitas sering menggunakan kontrak. Dengan cara ini anggota kelompok tertentu akhirnya menetapkan masalah yang menyebabkan mereka kesulitan dan bahwa mereka ingin menjajaki dalam kelompok. Dengan demikian, konseling kelompok biasanya berperan dalam kerangka mengajar / proses pembelajaran, yang menarik bagi banyak klien yang beragam etnis kelompok.

Secara tertulis tentang aplikasi multikultural terapi realitas, Wubbolding (1998) mencatat bahwa itu adalah penting bahwa pengguna terapi realitas menunjukkan kesediaan dan keterampilan dalam mengadaptasi metodologi untuk setiap klien. Teori dan kenyataan pilihan terapi dapat diterapkan untuk setiap kebudayaan. Ini adalah teori dan metode yang didasarkan pada motivasi yang universal. Namun demikian, perlu disesuaikan ketika digunakan dan diajarkan dalam pengaturan multikultural. Untuk melakukan ini secara efektif, guru, konselor, terapis, atau pelatih perlu menyadari nilai-nilai mereka sendiri, keterampilan, dan pengetahuan. Mereka juga baik disarankan untuk belajar tentang adat istiadat, sejarah, kekuatan sosial politik, dan metode dari komunikasi yang merupakan bagian dari budaya lain.

Terapi Realitas mendorong klien untuk melihat rentang kebebasan mereka miliki, bersama dengan tanggung jawab kebebasan ini. Dalam hal ini terapi realitas adalah suatu bentuk terapi eksistensial. Seperti saat ini dipraktekkan, penekanannya adalah pada kebutuhan batin, keinginan, evaluasi diri, dan pilihan-pilihan yang dibuat oleh klien (Wubbolding, 2000). Terapi realitas menawarkan banyak kelompok-kelompok orang tua, kelompok yang terdiri dari anak-anak dan remaja yang mengalami masalah perilaku dan yang terus-menerus mendapatkan kesulitan di sekolah, kelompok guru yang bekerja dengan berbagai mahasiswa, kelompok-kelompok orang yang mengakui bahwa gaya hidup mereka adalah tidak bekerja untuk mereka, dan kelompok-kelompok orang di lembaga-lembaga untuk perilaku kriminal. Pendekatan ini sangat cocok untuk singkat konseling intervensi dalam situasi krisis. Karena terapi realitas berhubungan dengan apa yang klien lakukan sekarang ini dan meminta klien untuk melakukan evaluasi dari apa yang mereka ingin mengubah-pendekatan yang cocok dengan program perawatan dikelola yang membatasi jumlah sesi-Klien diharapkan untuk mengidentifikasi masalah spesifik daerah yang mereka inginkan untuk mengeksplorasi, yang juga meminjamkan pendekatan ini metode jangka pendek. Kelompok dirancang pada prinsip-prinsip terapi realitas bisa cocok menjadi format 10 sampai 12 minggu.

Teori dan kenyataan pilihan terapi bekerja secara efektif untuk berbagai praktisi dalam keragaman kelompok, dan pendekatan ini telah berhasil digunakan dalam pengaturan pendidikan, di lembaga pemasyarakatan, di berbagai lembaga kesehatan mental, dan praktek pribadi. Teori pilihan dapat digunakan oleh orang tua, pekerja kesejahteraan sosial, konselor, terapis perkawinan dan keluarga, administrator sekolah, para dergy, dan pekerja muda. Glasser (1992, 2000) telah berhasil menerapkan prinsip-prinsip terapi realitas dan prosedur dengan sekolah, pemuda lembaga kustodian, kecanduan obat klinik, dan pusat-pusat rehabilitasi.